Revolusi Mindset, Membongkar Kekeliruan Dalam Berpikir
![]() |
| Sumber Gambar, Google |
Revolusi Mindset merupakan fondasi dasar untuk membongkar semua kekeliruan diri kita dalam memandang, dan berpikir atas diri dan kehidupan yang kita jalani. Revolusi Mindset bertujuan untuk menggali lebih dalam akar semua permasalahan yang timbul selama ini dalam diri dan hidup kita. Gaya hidup 'positif' tidak akan pernah menempel dalam hidup kita, jika software-nya di kepala belum ter-update.
Mindset itu ibarat OS di HP. Aplikasi bagus, gaya hidup sehat, kerja produktif, relasi sehat. Tapi jika OS-nya masih "aku nggak bisa atau hidupku susah", maka aplikasinya pasti nge-crash.
Revolusi Mindset 3.0 - Dari Negatif ke Positif
1. Update OS, ganti "Dialog Dalam Kepala"
mindset negatif paling berbahaya karena kedengarannya "logis". Contoh: "Gue emang orangnya mageran", ganti menjadi kalimat positif yang menggugah semangat, "Gue lagi belajar disiplin".
Latihan sekitar dua menit tiap bangun tidur. Tulis satu kalimat self-talk baru, misalkan, "Hari ini gue pilih satu langkah kecil". Ulang 21 hari berturut-turut. Otak itu layaknya otot, makin sering dipakai untuk berlatih akan beban dan diolah, akan semakin kuat.
2. Filter Input, "Sampah Mental dan Sampah Hidup". Biasakan untuk melakukan gaya hidup positif setiap hari, yang akan menjadi 'habit', yang harus kita konsumsi setiap hari. Aturan 80/20, atas konten yang kita scrolling tiap hari, 80% konten yang kita simak harus memberikan energi, ilmu, inspirasi, dan solusi.
Sementara, 20% boleh berupa konten hiburan, gosip selebriti atau gosip tetangga. Unfollow 3 akun yang bikin kita merasa kurang atau insecure. Ganti dengan 3 akun yang mengajarkan skill/mindset positif. Perlu kita ingat bahwa, lingkungan digital dapat mempengaruhi lingkungan nyata versi baru.
3. Bukti kecil dapat menjadi afirmasi besar. Mindset tidak akan berubah, apabila kita hanya sekedar membaca quote. Mindset akan berubah apabila kita sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan quote positif menjadi "bukti nyata" dalam kehidupan kita.
Mungkin tugas kita selanjutnya untuk minggu ini adalah mengumpulkan 7 "bukti" atas quote yang kita baca dan terapkan jika kita ingin menjadi pribadi yang positif.
Bisa jadi hari Senin, kita membantu orang tua buang sampah. Hari berikutnya, Selasa tahan diri untuk tidak komplain 1 hari. Selanjutnya hari Rabu, kita mengucapkan terimakasih ke diri sendiri.
Otak butuh data. Sekali saja kita telah berhasil membuktikan diri bahwa, "aku bisa positif" maka selanjutnya kita akan senantiasa percaya diri atas kemampuan diri kita sendiri.
Tiga Hukum Mindset Positif
1. Masalah Merupakan Data, Bukan Vonis
Bila kita jatuh, tidak harus kita mengatakan, "Oh sistemku bolong di sini". Bukan juga mengatakan,"Gue emang gagal". Orang positif terbiasa 'jago' membaca data, bukan drama, mengapa kita bisa "terjatuh".
2. Kontrol Lingkaran Mindset
Ada tiga lingkaran mindset yang harus kita jaga dengan 'Kontrol - Pengaruh - Peduli'. Fokus 90% energi kita ke "Kontrol", bangun tidur jam berapa, sarapan apa, respon ke orang lain, ketimbang kita mengeluhkan cuaca atau kemacetan, yang hanya akan membuang energi dan membuat hati kesal.
3. Bersyukur Yang Lebih Spesifik
Sah-sah saja apabila kita "bersyukur atas hidup kita", akan tetapi hal tersebut terlalu memiliki makna yang luas. Akan jauh lebih baik apabila kita bersyukur atas setiap 'moment', seperti kita 'bersyukur adanya kopi hangat di pagi ini'.
Dengan gaya bersyukur 'spesifik' tersebut, maka otak akan lebih cepat merespon positif atas apa yang tengah terjadi dan lebih merasakan hal tersebut dengan refleks. Jika kita bersyukur dengan gaya terlalu luas, misalkan kita 'bersyukur atas kehidupan kita' dan tidak spesifik, bisa jadi otak kita masih 'skip' atas syukur yang kita ucapkan, sebab secara tidak sadar kita masih mengeluhkan hal-hal kecil lainnya dan kita lupa serta tidak bersyukur atas 'kopi hangat yang telah tersedia pagi ini'.
Revolusi mindset, layaknya membangun IKN Nusantara versi kepala. Membangun gedung tidak dengan sekaligus, tapi melalui proses dan tahapan. Mulai dari membangun satu gedung dan selanjutnya membangun gedung-gedung lainnya. Lama kelamaan kota baru pun dapat berdiri dengan megah dan layak huni.
Oke, sebagai penutup tulisan ini, sekarang jujur saja, mindset negatif apa yang paling sering mampir di kepala kita saat ini ? "Takut gagal", "Aku nggak cukup", atau "Nanti aja deh"? (PS)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar